Jumat, 06 Desember 2013

Jejak Patih Gringsing dari Wonosari (Demangan)

Berawal dari janji ketemu dengan pak Henry, pak Widi dan mas Wijaya di salah satu warung di daerah Taman. Saya datang agak terlambat, pak Henry dan pak Widi sudah tiba duluan di lokasi. Agak kaget ketika mengetahui pemilik warung ternyata sudah sepuh (bahasa Jawa, artinya tua / lanjut usia). Benar saja, usianya sudah 84 tahun! Sempat terjadi dialog, yaaa.. nggak jauh-jauh soal kota Madiun di jaman dulu. 



Hampir setengah jam kemudian, datanglah mas Wijaya. Kami langsung membicarakan beberapa hal yang memang harus diselesaikan, kemudian mengambil keputusan dan membubarkan diri. Tapi sebelum meninggalkan warung, saya mengajak mereka untuk blusuk'an ( berpetualang ) ke sebuah tempat yang diinformasikan mas Haryo. Pak Henry dan pak Widi bersedia ikut, sementara mas Wijaya harus kembali ke tempat kerjanya.


Lokasi yang diinformasikan mas Haryo cukup akurat, karena setelah sampai di lokasi, kami langsung menemukan apa yang kami cari. Info awalnya adalah batu prasasti atau batu penanda batas wilayah kerajaan, tapi begitu kami temukan ternyata adalah batu nisan kuno. Pada saat kami sampai di lokasi, ada seorang pemuda yang menanyakan maksud kami datang di lokasi tersebut. Ternyata pemuda tersebut adalah anak dari penjaga / juru rawat makam tersebut, bernama mas Hendra. Ketulan sekali, what an amazing moment! 


Kami mendapat penjelasan panjang lebar dari mas Hendra tentang siapa yang dimakamkan dan hal-hal lain seputar sejarah di lokasi tersebut. Konon kata mas Hendra (seperti yang dituturkan almarhum bapaknya) di daerah tersebut dahulunya adalah sebuah kerajaan kecil Binaturoto, patihnya bernama Patih Gringsing. Pada masa itu, Belanda telah menguasai wilayah Binaturoto. Patih Grinsing berusaha melawan Belanda dan didukung oleh rakyatnya. Karena kesaktiannya, Patih Grinsing tidak mempan senjata tajam maupun peluru dari prajurit-prajurit Belanda. Hal ini menyusahkan Belanda dalam menumpas perlawanan Patih Gringsing, hingga suatu saat pihak Belanda mendapat informasi berharga tentang cara membunuh Patih Grinsing. Dikatakan bahwa Patih Grinsing akan mati jika terpanah oleh anak panah yang mata panahnya terbuat dari emas. 


Pada saat melawan Belanda di sekitar daerah Kaibon, Patih Gringsing berperang habis-habisan dan pasukan yang dipimpinnya semuanya mati terbunuh, karena itu daerah di dekat Kaibon itu diberi nama Tek'an dari kata "entek-entek'an" ( habis-habisan / penghabisan ). Patih Gringsing juga terpanah anak panah yang bermata panah dari emas, namun beliau bisa bertahan dan terus berjalan sampai di lokasi dimana makamnya berada sekarang dan menghembuskan napasnya yang terakhir. Dengan kematian Patih Gringsing, maka berakhirlah perlawanan terhadap Belanda.


Jika kisah ini benar adanya maka perlu dicocokkan dengan kesejarahan kabupaten Madiun di masa awal-awal berdirinya. Ketika masih bernama Purabhaya, wilayah Madiun dan sekitarnya termasuk wilayah dari Kesultanan Demak. Dengan menikahi Raden Ayu Retno Lembah (putri Raden Gugur, penguasa terakhir kerajaan Glang-glang - Wurawan di era runtuhnya kerajaan Majapahit), Pangeran Surya Pati Unus memindahkan pusat pemerintahannya dari Wurawan ke Purabhaya. Letak Purabhaya sekarang adalah di Sogaten. Setelah Raden Patah / Jin Bun wafat, Pangeran Surya Pati Unus menggantikan ayahnya menjadi sultan di Demak pada tahun 1518. Wilayah Purabhaya dipercayakan kepada Ki Rekso Gati (tempat / kedudukan Ki Rekso Gati dikenal sebagai Sogaten (dari kata Rekso Gatian dan menjadi Sogaten).

Ketika Demak runtuh akibat perang saudara, berdirilah Kesultanan Pajang pada tahun 1568. Ketika Raden Mas Karebet / Jaka Tingkir naik tahta sebagai sultan Pajang, diangkat pula Panembahan Rama / Pangeran Timur sebagai bupati di Purabhaya. Pada tahun 1575, Pangeran Timur memindahkan istana / pusat pemerintahan dari Purabhaya ( di Sogaten) ke Wonorejo (sekarang Kuncen). 

Kesultanan Pajang runtuh pada tahun 1586, kemudian berdiri Kesultanan Mataram dimana Panembahan Senopati / Raden Danang Sutowijoyo sebagai Sultan Mataram pertama. Karena dahulunya Purabhaya adalah wilayah Kesultanan Pajang, maka Panembahan Rama / Pangeran Timur menolak tunduk takluk atas kekuasan Kesultanan Mataram. Pada bulan Muharram 1586, kekuasan pemerintahan Purabhaya diserahterimakan dari Pangeran Timur kepada putrinya Raden Ayu Retno Dumilah. Purabhaya diserang oleh pasukan Mataram pada tahun 1586 dan 1587, namun masih dapat bertahan. Pada serangan ketiga di tahun 1590, istana Purabhaya di Wonorejo dapat dikuasasi pasukan Mataram. Pada tanggal 16 Nopember 1590 nama Purabhaya diganti menjadi MADIYUN. Perubahan nama ini sebagai tanda kemenangan Mataram atas Purabhaya. Raden Ayu Retno Lembah akhirnya dipersunting Panembahan Senopati / Raden Danang Sutowijoyo sebagai selir istimewa dan diboyong ke Plered, ibukota Mataram. Selain pergantian nama menjadi Madiun, ibukota Madiun juga dipindah dari Wonorejo ke Wonosari / Kuthomiring (sekarang Demangan).

Pada tahun 1725, pejabat bupati Madiun adalah Pangeran Mangkudipuro dan berkedudukan di Kranggan, saat itu sering terjadi peperangan di wilayah Madiun melawan VOC Belanda. Selanjutnya setelah terjadinya peristiwa Palihan Nagari atau Perjanjian Giyanti, kabupaten Madiun dipimpin oleh Raden Ronggo Prawirosentiko / Raden Ronggo Prawirodirjo I dari tahun 1755, berkedudukan di istana Kranggan.Setelah Raden Ronggo Prawirodirjo I wafat di tahun 1784, diangkatlah putranya Raden Mangundirjo / Raden Ronggo Prawirodirjo II sebagai bupati Madiun dan berkedudukan di istana Wonosari berjarak 3 KM dari Kranggan. Selanjutnya tampuk bupati Madiun jatuh kepada putra Pangeran Ronggo Prawirodirjo II setelah wafat di tahun 1797, yakni Raden Ronggo Prawirodirjo III dan berkedudukan di istana Maospati. Pada tahun 1799, kekuasaan VOC berakhir dan bekas wilayahnya dikuasai oleh kerajaan Belanda. Di era kepemimpinan Pangeran Ronggo Prawirodirjo III inilah, perlawanan terhadap Belanda begitu gencar, termasuk ketika pecah perang Diponegoro tahun 1825 sampai tahun 1830.

Selanjutnya, mari kita kembangkan teori...

Tentang keberadaan Patih:
1. Lokasi makam Patih Gringsing terletak di Kelurahan Demangan, dimana pada masa sebelumnya wilayah ini mulai ramai dihuni ketika Wonorejo (sekarang Kuncen) dijadikan pusat pemerintahan kabupaten Purabhaya (tahun 1575). Hal ini dimungkinkan karena letak Wonorejo (Kuncen) dengan Demangan (sekarang) tidak terlalu jauh.
2. Lokasi makam Patih Gringsing terletak persis di wilayah ibukota kabupaten Madiun pertama kali di era Mataram (tahun 1590).
3. Lokasi makam Patih Gringsing terletak kurang lebih 3 KM dari Kranggan, ibukota Madiun di tahun 1725.

Dari keterangan di atas, maka sangatlah mungkin jika di daerah tersebut terdapat seorang Patih, karena dalam tata pemerintahan pada waktu itu seorang Bupati dibantu oleh Patih, Mantri Ageng / Besar dan Mantri. 

Tentang perang terhadap Belanda:
1. Perang terhadap Belanda di wilayah Madiun terjadi pertama kali di masa Bupati Mangkudipuro pada awal tahun 1700an melawan VOC.
2. Perang terhadap Belanda selanjutnya terjadi pada masa Bupati Pangeran Ronggo Prawirodirjo I melawan VOC.
3. Perang terbesar di Madiun terhadap Belanda terjadi kembali di masa Bupati Pangeran Ronggo Prawirodirjo II pada pertengahan tahun 1700an hingga awal 1800an.
4. Perang selanjutnya terjadi kembali di tahun 1925 sejak meletusnya perlawanan Pangeran Diponegoro sampai pada tahun 1827, setelah itu perlawanan di Madiun relatif tidak ada sesuai laporan / surat Letnan Jenderal De Kock tanggal 5 Desember 1827.

Dari keterangan di atas, maka kemungkinan Patih Gringsing mati dalam pertempuran melawan Belanda dapat terjadi, karena perang melawan Belanda yang terjadi di Madiun dimulai awal tahun 1700an sampai dengan 1827 pada masa perang Diponegoro.

Bersambung...


Tim pemburu jejak-jejak sejarah Madiun menyeberangi Kali Catur yang memisahkan Wonosari / Kuthomiring (Demangan) dengan Kranggan 

Rabu, 27 November 2013

Mlaku-mlaku nang Yogja..



Berita kunjungan ke Istana Kepresidenan Yogyakarta dari panitia saya terima sewaktu posisi masih di Jakarta, setelah menghadiri acara pelantikan pengurus pusat salah satu organisasi keprofesionalan di salah satu gedung kementerian. Agak kaget juga, kenapa mendadak dan jumlah pesertanya dibatasi. Segera saya daftarkan diri ke panitia dan alhamdulillah resmi masuk dalam daftar pengunjung.

Selang sehari setelah pulang dari Jakarta, saya harus berangkat jam 3 pagi dari Madiun dengan bus umum. Sebenarnya lebih nyaman dengan kereta api, namun karena tidak ada jadwal kereta yang berangkat pada jam tersebut, terpaksa gunakan saja moda yang lain. Turun di Janti dan lanjut ke lokasi dengan bus TransJogja. Sesampai di depan pagar Gedung Agung, rekan-rekan dari komunitas MADYA Yogyakarta telah berkumpul. Bayar tiket peserta, terima stiker, briefing panitia sebentar, lalu masuk berombongan ke dalam komplek istana. 



Pesan panitia sebelumnya, setiap pengunjung dilarang membawa kamera ketika masuk ke dalam istana, jadi kamera saya tinggal di dalam tas ransel dan saya titipkan di pos penjagaan. Tapi sesampai di dalam istana, saya melihat rekan-rekan yang lain justru asik jeprat jepret dengan kameranya. Sempat menyesal juga, kenapa kamera saya tinggal di dalam tas ransel. Tapi sudah terlanjur, ya sudahlah...

Rombongan disambut oleh bapak Yohannes Bambang WS selaku penanggungjawab keamanan istana. Beliau menerima kami di teras depan istana, kemudian menceritakan sedikit tentang aturan masuk ke dalam istana. Sementara rekan-rekan yang lain mendengarkan penjelasan pak Bambang, saya justru asyik mengamati lampu kristal yang menggantung di bagian teras istana, pilar-pilar besar dari beton dan dari besi solid serta interior lainnya.



Obyek kunjungan pertama adalah gedung Seni Sono atau museum istana, bangunan ini didirikan pada tahun 1820 sebagai societeit anggota militer Belanda. Pada saat mengunjungi museum istana, sedang dilakukan jamasan gamelan dan koleksi pusaka. Ritual jamasan tersebut biasa dilakukan pada bulan Muharam atau bulan Suro menurut penanggalan Jawa dan pelaksanaannya setelah ritual jamasan pusaka kraton yang diselenggarakan pihak kraton Yogjakarta. Meski tidak dapat melihat dari dekat karena dilarang oleh pihak keamanan istana, dari dalam pintu museum saya melihat sebuah gong besar sedang dimandikan / disiram air yang dicampur dengan bunga setaman. Di atas lantai tersaji berapa sesaji seperti pisang raja, jenang / bubur beras merah putih, bunga-bunga dan lainnya. Juga ada seorang sinden, lengkap dengan pakaian kebaya dan kain batik serta bersanggul yang sedang mempersiapkan diri untuk 'nembang' diiringi siter.



Dalam ruang pamer lukisan, saya terpana cukup lama mengagumi lukisan Raden Saleh berjudul Berburu Banteng 1. WHAT A GREAT MASTERPIECE...!!! Frame lukisan sangat indah dengan pola pahatannya yang bercat kuning keemasan. 

Juga saya temukan karya-karya pelukis kenamaan lainnya di ruang pamer lukisan di lantai dasar ini, diantaranya hasil karya R Soedjojono, Dullah, Rudolf Bonet, Affandi dan Basoeki Abdoellah. Selanjutnya naik ke lantai 1, di situ saya menemukan sebuah lukisan 3 dimensi Presiden Soeharto dan Hamengku Buwono ke IX karya Ardani. Lukisannya benar-benar hidup. Juga ada lukisan Presiden SBY dan bu Ani SBY dengan detail yang sangat luar biasa hasil karya Warso Susilo. Puas melihat-lihat lukisan, rombongan berpindah masuk ke dalam istana menuju ruang makan kenegaraan / VVIP melewati sebelah kamar tidur utama presiden yang di bagian terasnya sedang direnovasi.



Ruang makan VVIP terdiri dari 3 meja utama, dimana meja paling tengah adalah meja presiden beserta ibu negara dan tamu undangan kenegaraan, sebelah kiri meja utama adalah meja untuk anak-anak presiden dan anak-anak tamu negara, sedangkan meja sebelah kanan dari meja utama presiden adalah meja untuk para menteri dan pendamping tamu negara. Sedangkan di depan 3 meja utama tadi masih ada meja-meja lainnya untuk tamu-tamu yang diundang. Lokasi atau letak 3 meja utama, dahulunya merupakan teras belakang bangunan utama istana, teras ini merupakan tempat favorit Bung Karno membaca buku di pagi atau sore hari, sambil menikmati secangkir kopi. Sementara meja-meja tamu undangan terletak di ruangan tambahan di sisi luar teras bangunan utama.


Selanjutnya bergeser ke ruang kesenian. Ruangan ini merupakan ruangan multi fungsi, selain digunakan untuk menyaksikan pertunjukan kesenian dari atas panggung, ruangan sering digunakan sebagai ruang rapat kabinet, ruang pameran kerajinan, juga sebagai ruang makan.  Selesai tanya jawab dengan pak Bambang di ruang kesenian, rombongan dipersilakan belanja makanan kecil dan minuman serta cinderamata khas istana. Saking asiknya memilih-milih souvenir, saya ketinggalan rombongan yang sudah lebih dulu ke halaman istana dan sibuk dengan jeprat jepret kamera. Alhasil, ketika saya keluar dari kantin istana dan ingin berpose di halaman istana, sudah keburu dihalau oleh anggota keamanan istana sambil menyampaikan peringatan bahwa waktu kunjungan telah habis. Yaaaah.... nggak sempat foto-foto lagi dehhhh....



The capital city of Mataram Imperium, November 18th, 2013
Senen legi, 14 Suro 1947 / 14 Muharram 1435 H.