Senin, 30 Juli 2012

GULA SETENGAH KILOGRAM VS MASA DEPAN


Seorang kerabatku malam itu tergopoh-gopoh datang ke rumah mencari istriku.

“Mas,,,, mbak Wahyu ada?” tanya mbak Nem.

“Ada, lagi di belakang sama anak-anak. Ada apa, mbak?” tanyaku balik.

“Anu, mas... Di rumah pak RT lagi ada pembagian gula gratis setengah kilo,” jawabnya.

“Ooh.. Sebentar, silakan duduk dulu, mbak.”

Kupersilakan mbak Nem duduk di kursi ruang keluarga dan bergegas ku pergi memanggilkan istri di belakang. Tak sampai menunggu lama, aku dan istriku datang kembali menemui mbak Nem. Sementara istriku mengobrol dengan mbak Nem, aku melanjutkan menonton televisi.

“Mbak,, punya foto kopi KTP nggak? Kalau mbak Wahyu punya, sekarang juga bisa ditukar di rumah pak RT dengan gula setengah kilo. Gratis, mbak!” cecar mbak Nem kepada istriku.

“Emang lagi ada acara apa? Kok malam-malam begini ada pembagian gula?”

“Itu lho,,, tadi pak RT kedatangan tamu. Katanya panitia dari calon wakil bupati yang baru. Mereka butuh foto kopi KTP, dua puluh lima foto kopi per RT. Nanti siapa-siapa yang ngasihkan foto kopi KTP dapat ganti gula setengah kilo,” jelas mbak Nem.

Aku yang sedari tadi nguping obrolan mereka jadi ikut-ikutan bicara.

“Tamunya pak RT bilang apa aja, mbak?” tanyaku.

“Katanya mereka butuh foto kopi KTP sebanyak lima ratus lembar, untuk syarat jadi wakil bupati, gitu mas,” jelas mbak Nem.

“Terus, mbak sudah ngasih foto kopi KTP-nya mbak? Dapat gulanya?” tanyaku.

“Belum, mas. Paling kalau saya ke sana lagi juga sudah habis, lha wong tadi ibu-ibu langsung ngacir, buru-buru pergi ke tokonya mbak Tri buat foto kopi,” kata mbak Nem.

“Hahahaaaaa,,, mbak Nem ini ada-ada saja. Lha wong sudah habis kok woro-woro* ke sini,” kata isteriku.

“Mbak Wahyu ini kayak nggak tahu aja. Saya khan tukang nyebar berita di RT sini. Sesuatu banget, khan? Hahahaaaa....” kata mbak Nem sambil bergaya ala Syahrini.


 ########

Cuplikan obrolan nyata di atas, benar-benar terjadi. Dan itu menggelitik saya untuk tidak sabar menuliskan hal-hal yang seharusnya kita ketahui bersama.

Peraturan perundang-undangan negara kita telah memberikan kebebasan ruang kepada setiap orang untuk berperan dalam demokrasi, termasuk dalam hal pemilihan kepala daerah, baik itu setingkat walikota / bupati maupun gubernur. Mungkin ada beberapa di antara kita yang belum paham betul tentang mekanisme pencalonan kepala daerah ini.

Calan kepala daerah bisa menggunakan 2 jalur untuk menjadi peserta pemilu kepala daerah. Pertama, melalui jalur partai politik yang ada dan kedua, melalui jalur perorangan atau istilah kerennya sekarang jalur independen.

Pasangan calon kepala daerah yang menggunakan jalur partai politik harus mendapatkan dukungan dari partai politik di daerah sebanyak 15 % kursi dari total jumlah kursi DPRD setempat. Sederhananya begini, misal di kabupaten A mempunyai 50 orang/kursi anggota DPRD dari berbagai fraksi partai politik. Partai “Ayem Tentrem” mempunyai 10 orang/kursi anggota DPRD, jadi jumlah kursi partai “Ayem Tentrem” di DPRD adalah 20%. Nah,,, jadi partai “Ayem Tentrem” ini bisa mengusulkan pasangan calon kepala daerahnya.

Bisa juga melalui gabungan partai politik yang ada di DPRD setempat. Partai politik yang jumlah kursinya kurang dari 15%, dapat bergabung dengan partai politik lainnya dan dapat mengusulkan pasangan calon kepala daerahnya sendiri. Misal, partai “Murah Pangan” hanya punya 6% kursi, partai “Wong Cilik” hanya punya7% kursi dan partai “Tempe Tahu” hanya punya 4% kursi. Mereka bisa bergabung menjadi gabungan partai politik dan menjumlahkan kekuatan kursi mereka di DPRD menjadi 17% kursi. Dengan 17% kursi dari kursi anggota DPRD setempat, gabungan partai politik inipun bisa mengusulkan pasangan calon kepala daerah.

Itu dari jalur partai politik dan gabungan partai politik.

Sementara ini, diperbolehkan juga melalui jalur perorangan / independen, artinya adalah pasangan calon kepala daerah tersebut tidak melalui jalur partai politik. Persyaratannya adalah mendapatkan dukungan langsung dari masyarakat dalam bentuk tanda tangan dan foto kopi KTP atau dokumen kependudukan lainnya yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Jumlah dukungan ini harus mencukupi prosentase dari jumlah penduduk setempat.

Misal di kabupaten Madiun ini berpenduduk 810.000 jiwa. Sesuai peraturan perundang-undangan, prosentasenya adalah 4%. Sehingga jumlah minimal dukungan yang harus dikantongi pasangan calon independen adalah 32.400 dukungan. Tapi, jumlah dukungan itu harus tersebar di lebih dari 50% wilayah kecamatan yang ada.         

Lantas apa hubungannya dengan kisah di atas tadi???

Oke, sekarang mari kita simak yang beeeerrrrrikut ini.... (niru Jeremy Teti, heheheee)

Ada beberapa pembodohan publik yang dilakukan oleh tamu pak RT tadi.

1. Disebutkan bahwa mereka membutuhkan 500 lembar foto kopi KTP untuk menjadi wakil bupati dari jalur independen.
 
Calon bupati dan calon wakil bupati adalah satu kesatuan. Tidak ada istilahnya beda persyaratan untuk calon bupati ataupun wakil calonnya. Misal, untuk calon bupati butuh 1.000 lembar, sementara untuk calon wakilnya hanya butuh 500 lembar. Itu tidak benar.

Karena merupakan satu kesatuan, mereka harus memenuhi persyaratan yang sama, yang telah diatur oleh peraturan perundang-undangan yang ada. Di atas sudah saya jelaskan, tapi tidak ada salahnya kita ulang kembali.Syaratnya adalah mendapatkan dukungan sebanyak 4% dari jumlah penduduk dan sebarannya harus lebih dari 50% wilayah kecamatan.

Kabupaten Madiun berpenduduk kurang lebih 810.000 jiwa, wilayahnya terbagi ke dalam 15 kecamatan yang terdiri dari 206 desa / kelurahan. Sehingga jumlah dukungan yang harus dikumpulkan adalah 32.400 lembar foto kopi (4% X 810.000 jiwa penduduk) dan minimal berasal dari 8 kecamatan yang ada (50% X 15 kecamatan).

2. Iming-iming gula gratis setengah kilogram

Tamu pak RT tersebut adalah representasi atau perwakilan dari si calon wakil bupati. Tamu tersebut memang tidak berpolitik uang alias memberikan / membagi-bagikan uang, namun hal ini masih sangat terlihat jelas bahwa cara yang digunakannya masih sama, saya sebut saja berpolitik gula. Mari kita berhitung. Anggap saja gaji dan pemasukan resmi lainnya dari seorang bupati atau wakilnya adalah 10 juta rupiah per bulan. Jika menjabat penuh selama 5 tahun, maka penghasilannya adalah 10 juta rupiah kali 12 bulan kali 5 tahun sama dengan 600 juta rupiah.

Sementara dengan berpolitik gula tadi, jika asumsinya rata-rata per desa diambil hanya 10 RT dan setiap RT-nya diambil 25 dukungan , maka gula yang dibagikan adalah ½ kilogram gula x 25 dukungan x 10 RT x 206 desa / kelurahan sama dengan 25.750 kilogram gula!!!
Hampir 26 ton gula!!! Sementara jika harga gula sekarang adalah 10 ribu rupiah per kilo, maka jumlah uangnya adalah 10 ribu rupiah x 25.750 kilogram sama dengan 257.500.000 rupiah!!!

Coba kita bandingkan dengan penghasilan seorang bupati yang hanya kurang lebih 600 juta selama 5 tahun tadi. Artinya, hampir setengah penghasilannya "telah habis" untuk dibelanjakan gula demi sekian puluh ribu lembar foto kopi KTP!!!

Itu baru untuk foto kopi KTP. Bagaimana nanti ketika si calon kepala daerah harus memberikan kaos gratisan, stiker, kalender dan macam-macam barang demi terpilihnya si calon? Berapa banyak uang yang dihambur-hamburkan demi sebuah legitimasi?

Ibarat seperti pedagang yang harus belanja barang dagangan dan menjualnya kembali. Jika modalnya 1 miliar rupiah, maka dia harus mendapatkan kembali modal pokoknya berikut dengan labanya. Karena hukum ekonomi selalu mengatakan ambillah keuntungan sebanyak-banyaknya dengan modal yang serendah-rendahnya. Bagaimana seorang kepala daerah dapat bekerja mengayomi dan melayani masyarakat sementara yang terjadi adalah dia harus berpikir untuk mengembalikan modal pokoknya (syukur dengan laba sebanyak-banyaknya).  

Saya ingin menyebut ini sebagai gumpalan benang kusut yang tercebur dalam aspal dan gumpalan ini mengering! Bisa Anda bayangkan bagaimana ketika harus menguraikannya???

Hmmmm..... Bukankah kita sendiri yang selama ini menuntut agar pemerintah memberantas korupsi? Bukankah kita sendiri yang mengharapkan berjalannya pemerintahan daerah yang bisa sepenuhnya mengayomi dan melayani masyarakat? Mari kita renungkan hal ini.

Tapi mengapa kita sendiri yang membukakan jalan dan memberikan toleransi seluas-luasnya terhadap korupsi? Mengapa kita gampang terbujuk dengan rayuan-rayuan semu di setiap pesta demokrasi di negeri ini (pemilihan kepala daerah, pemilihan anggota legislatif, bahkan pemilihan presiden!). Mengapa kita begitu mudah menggadaikan masa depan kita, harga diri dan martabat kita dengan iming-iming materi yang mungkin habis sesaat? Semurah itukah diri kita???

Jangan sekedar membayangkan dan memimpikan jalan desa yang beraspal halus dan nyaman, sekolah yang berkualitas baik untuk anak-anak kita, sandang pangan yang murah, berkecukupan penghasilan dan kehidupan yang lebih baik. JANGAN HANYA BERMIMPI! TAPI LAKUKANLAH! KERJAKANLAH!

TOLAK DAN HINDARKAN DIRI DARI POLITIK UANG, POLITIK GULA, POLITIK IMING-IMING DAN POLITIK KOTOR LAINNYA.

MARI KITA JUJUR DAN BENAHI DIRI.

Sabtu, 28 Juli 2012

REMAJA PUTUS SEKOLAH DAN BATU BATA

Sore itu, sebenarnya aku berniat sekedar menghabiskan waktu menunggu waktu berbuka puasa dengan bersepeda motor melalui tanggul sungai Madiun. Namun akhirnya tanpa sengaja aku menemukan sebuah wilayah yang berbatasan dengan desaku, yang selama ini luput dari perhatianku. Wilayah itu dikenal dengan sebutan Singolobo. Sewaktu aku masih kecil, setiap aku mendengar nama Singolobo, maka yang langsung terbersit di otakku adalah sebuah tempat yang menyeramkam, banyak rimbunan bambu, ada makam angker dan segala hal yang menakutkanku sebagai anak kecil.
 
Namun Singolobo kini ternyata sudah jauh berubah dan sama sekali tidak seseram namanya ketika kecilku dulu. Singolobo sekarang menjadi sentra industri rumah tangga berupa batu bata. Hampir setiap saat pick-up maupun truk keluar masuk ke wilayah itu mengangkut batu bata ke semua penjuru Madiun, bahkan keluar Madiun.


Di saat aku berkeliling di Singolobo, terlihat seorang remaja laki-laki sedang asyik mengaduk tanah liat sebagai bahan baku utama batu bata. Segera kuarahkan sepeda motorku ke gubuk di mana remaja itu sedang bekerja. Kumatikan mesin motorku dan segera turun, seketika seorang ibu berumur setengah baya menyambutku dan menanyakan apakah aku sedang menginginkan batu bata. Kujawab tidak dan kusampaikan bahwa aku hanya sekedar ingin melihat proses pembuatan batu bata. Kulangkahkan kaki ke samping gubuk dan mengamati dengan seksama aktivitas yang dilakukan remaja itu.

Kaos hitam kumal dan celana kolor selutut. Keringat membasahi sekujur wajahnya, nampak bahwa dia sudah bekerja berat seharian ini. Gerakan tangannya lincah mengaduk tanah liat, kemudian dimasukkanya ke dalam ember, lalu membawa ember itu ke tempat pencetakan batu bata. Dia meletakkan cetakan batu bata di atas tanah yang permukaannya sudah ditaburi abu sisa pembakran sekam padi. Lalu dengan gerakan yang sangat lihai, dia pindahkan adonan lumpur ke dalam cetakan batu bata. Dia tekan-tekan sedemikian rupa adonan itu sehingga padat mengisi rongga cetakan, di atas permukaan cetakan dia ratakan adonan. 





Kemudian dia siramkan sedikit air, dia ratakan kembali permukaannya sehingga benar-benar rata dan licin. Dan sebagai sentuhan terakhir, dia buatkan semacam “finger mark” atau semacam tanda di permukaan adonan batu bata dengan 3 jarinya, sehingga ketika adonan itu kering akan meninggalkan tanda bahwa dialah pembuat batu bata itu. Dengan sekali sentakan, cetakan batu bata itu diangkatnya dan..... Whoillaaaa... Jadilah batu bata yang masih basah dengan bentuk yang benar-benar presisi!!!


Selanjutnya dia bersihkan cetakan batu bata itu dengan air, lalu di letakkan kembali sejajar dengan hasil cetakan sebelumnya. Kemudian dia lakukan kembali proses seperti di atas tadi. Begitu seterusnya sampai adonan bahan batu bata habis dari embernya. Begitu seterusnya dari hari ke hari. Begitu seterusnya dari sejak dia lulus bangku sekolah dasar hingga entah sampai kapan.


Remaja itu bernama lengkap Deni Agus Wahyudi, usianya kini 14 tahun. Seharusnya dia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, namun karena keadaan ekonomi keluarganya Deni terpaksa tidak bisa bersekolah dan hanya menjadi seorang pencetak batu bata. Deni adalah anak dari pasangan suami istri Jono dan Sri Wahyuni. Bapaknya hanya seorang pekerja serabutan, sementara ibunya telah 1 tahun ini bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita / TKW sektor informal di negara tetangga, Malaysia. Himpitan ekonomi keluarganya memaksa Deni bekerja, padahal teman-teman seusianya sedang belajar dan bermain.

“Mas Deni nggak ingin sekolah?” tanyaku padanya.
“Malu, mas. Saya anaknya orang nggak punya,” jawab Deni dengan muka tertunduk dan malu-malu.
“Trus mau sampai kapan nyetak bata?”
“Nggak tau. Pokoknya saya harus kerja bantu orang tua ngumpulin duit,” jawad Deni diplomatis.
“Trus kalau duitnya sudah banyak buat apa?” cecarku lagi.
“Ya buat beli baju bagus, buat beli hape, buat beli motor, pokoknya buat beli apa aja, biar sama kayak teman-teman yang lain,” jawabnya.

Aku tercenung mendengar jawabannya. Betapa nilai-nilai materialistis sudah meracuni anak seusia Deni. Pendidikan sekolah dia tinggalkan karena kesulitan beaya, namun di sisi yang lain dia bekerja sekeras mungkin untuk memenuhi impiannya dengan hal-hal yang bersifat kebendaan. Lalu, di manakah letak akar masalah ini. Aku jadi bingung sendiri.


Sekolah yang sekarang katanya gratis tetapi masih saja memungut beaya tambahan lain-lain dengan berbagai macam dalih. Akibatnya, orang tua yang tidak mempunyai beaya untuk sekolah anak-anaknya akan bekerja keras memenuhinya. Tapi di jaman sekarang, sangat susah untuk mencari pekerjaan. Iya kalau bisa bekerja, bagaimana kalau tidak? Dari mana sumber penghasilan untuk beaya sekolah anak? Untuk kasus Deni ini, demi mencukupi kebutuhan hidup, ibunya bahkan bekerja sampai ke Malaysia, sementara bapaknya juga bekerja serabutan. Lantas, siapakah yang mengasuh Deni? Yang bisa mengawasinya, membimbingnya, dll?
Kalaupun Deni bisa bersekolah, apakah pendidikan Deni cukup dari sekolah saja? Bagaimana dengan peran orang tua yang juga harus mendidik, merawat dan mengasuhnya? Sementara mereka sendiri harus bekerja mati-matian demi bertahan hidup?

Karena waktu semakin sore, kuputuskan untuk meninggalkan Deni dengan sejuta impiannya. Dan sepanjang perjalananku pulang, pikiranku terus berkecamuk, betapa susahnya jadi manusia (seperti bahasa iklan rokok di televisi, hehehee....).

###########

Terima kasih kepada pembaca blog ini.
Saya masih belajar untuk menulis. Sumbang saran dan kritik dari pembaca sangat saya harapkan demi perbaikan tulisan di masa mendatang.

INDAHNYA KEBERSAMAAN

(harmoni antara imam dan ma’mum,
antara pemimpin dan rakyat,
antara pengemban amanah dan pemberi amanah)

Suasana masjid ini begitu ramai. Tua muda berebut tempat yang enak dan nyaman sesuai dengan keinginan mereka. Maklumlah, masih minggu pertama di bulan ramadhan tahun ini. Kelompok jama’ah laki-laki benar-benar penuh sampai di bagian teras dan kelompok jama’ah perempuan di halaman masjid yang masih bertanah namun sudah dialasi dengan terpal oleh pengurus masjid. Semua orang masih dengan wajah yang berseri-seri malam ini. Entah nanti ketika sudah memasuki pertengahan ramadhan, masihkah akan seramai malam ini? Wallahu alam.

Iqomat sudah dikumandangkan dan semua orang bersiap melaksanakan sholat Isya’. Raka’at pertama, raka’at kedua, duduk sejenak / tahiyatul awwal, lalu raka’at ketiga, raka’at keempat, duduk sejenak kembali / tahiyatul akhir dan salam. Alhamdulillah, sholat Isya’ berjama’ah berjalan dengan lancar. Selanjutnya berdzikir dan berdoa dipimpin imam. Semoga Allah SWT meridhoi ibadah kami malam ini.

Oh ya, ada yang terlewat. Maaf, saya juga manusia biasa tempatnya kilaf dan lupa. Imam malam hari ini sudah termasuk udzur, suara yang dilantunkannya mulai terdengar bergetar, mungkin karena faktor usia imam tersebut. Menurut saya pribadi, imam tersebut sudah seharusnya ‘pensiun’ dan digantikan oleh imam lain yang lebih muda. Mungkin pendapat saya ini salah, tapi bukankah masih ada imam lain yang siap menjalani suksesi kepemimpinan sebagai imam baru?

Sudahlah,,, saatnya sekarang kita lanjut dengan sholat Tarawih. Soal suksesi imam kita bahas nanti, oke?
Raka’at pertama lancar, kemudian lanjut ke raka’at kedua. Setelah selesai Al Fatihah, imam membacakan surat Al Ankabut. Namun di ayat terakhir, imam lupa lafadznya....!!!! Dan secara serentak beberapa orang ma’mum melanjutkan ayat terakhir dengan suara yang nyaring agar terdengar oleh imam. Dan imam akhirnya dengan sukses melantunkan ayat terakhir surat Al Ankabut tersebut dan menyelesaikan tugasnya hingga 2 raka’at pertama. Subhanallah!!!

Selanjutnya 2 raka’at kedua sholat Tarawih dijalankan. Pada raka’at pertama setelah selesai Al Fatihah, imam membacakan surat Al Zalzalah, namun di ayat ketiga imam lupa lagi lafadznya! Serentak ma’mum menyaringkan suara melantunkan ayat ketiga surat Al Zalzalah. Dan imam berhasil meneruskannya hingga selesai dan sukses kembali memimpin 2 raka’at kedua. Subhanallah!!!

Sampai pada akhirnya, semua raka’at sholat Tarawih berjalan lancar. Kami para jama’ah berduyun-duyun meninggalkan masjid. Meski masih ada beberapa orang yang tetap tinggal di masjid untuk melakukan tadarus Al Qur’an.

Dari kejadian di masjid tadi, ada hal yang sangat menarik perhatian saya. Tapi maaf, mungkin Anda akan sedikit kecewa karena bukan soal suksesi kepemimpinan imam yang akan saya bahas. Yang ingin saya bahas adalah tentang konsep kebersamaan antara imam sebagai pemimpin dan ma’mum sebagai jama’ah atau rakyat. Lihatlah kembali kejadian di atas, betapa Islam sudah begitu sempurna mengatur segala hal, baik berupa tatanan kehidupan sebagai individu maupun tatanan kehidupan sebagai komunal. Bahkan hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin!

Pemimpin adalah pengemban amanah rakyat. Pemimpin adalah manusia. Itu jelas dan pasti. Dan manusia adalah tempatnya kilaf dan lupa. Itu juga jelas dan pasti. Karena kelemahan itulah perlu adanya sebuah aturan dan tatanan, alhamdulillah Islam sudah mengaturnya dengan sempurna. Pemimpin yang karena kilaf ( terbawa emosi, nafsu, ambisi) dan lupa tidak bisa serta merta menggunakan kekuasaannya secara absolut. Rakyat sebagai pemberi amanah juga mempunyai kewenangan untuk mengingatkan kembali jika pemimpin melakukan kekilafan dan kelupaannya. Ini adalah sebuah harmonisasi yang dapat kita temukan dalam ajaran Islam. 

Bagaimana dengan kehidupan nyata sekarang? Masihkah hal itu dapat kita temui?

Hampir di semua daerah di Indonesia saat ini mengalami krisis kepercayaan terhadap pemimpin. Dari mulai tingkat RT, RW, desa/kelurahan, kecamatan, kota/kabupaten, provinsi bahkan sampai tingkat menteri dan presiden! Demikian halnya dengan wakil rakyat yang duduk di tingkat kota/kabupaten, provinsi dan pusat! Kenapa bisa terjadi seperti ini? Bukankah mereka juga beragama? Bukankah mereka juga pengemban amanah rakyat? Bukankah mereka juga manusia (tempatnya kilaf dan lupa)?

Kenapa mereka menjadi lupa diri? Kenapa mereka menggunakan kekuasaannya secara absolut? Kenapa mereka tidak mau mendengarkan teguran dari rakyatnya sendiri, yang notabene adalah pemberi amanah kepada mereka?

Mari kita tengok latar belakangnya.

1.      Pemilihan kepala desa.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa untuk menjadi seorang kepala desa, seorang calon kepala desa minimal harus menyiapkan dana sampai ratusan juta rupiah. Uang itu disebarkan atau dibagi-bagikan kepada warga desa agar memilih si calon kepala desa. Uang tersebut adalah untuk “membeli” amanah dari warga desa. Sehingga kepemimpinan kepala desa bukan lagi berdasarkan amanah yang murni dari warga desa, melainkan melalui proses jual beli dan lelang dengan warga desa. Yang terjadi adalah ketika si calon kepala desa dengan jumlah pemberian uang tertinggi kepada warga desa terpilih menjadi kepala desa, maka dengan kekuasaannya, si kepala desa terpilih akan secara absolut memerintah desa. Dan sepanjang periode kepemimpinannya, si kepala desa bukan lagi berpikir bagaimana mengemban amanah dari warga desa dengan baik dan benar, namun lebih banyak berpikir bagaimana mengembalikan modal awal sebagai kepala desa, baik dengan cara yang sangat halus maupun secara radikal dan terang-terangan. Warga desa tidak lagi mempunyai kekuatan atau kewenangan untuk mengingatkan kembali fitrah si kepala desa sebagai seorang pengemban amanah dan sebagai seorang manusia biasa, karena amanah warga desa telah “terjual” dari sejak awal. Sebuah lingkaran setan yang tidak mudah diputus begitu saja karena sudah membudaya sejak lama.


2.      Pemilihan walikota/bupati, gubernur dan presiden.
Mungkin tidak perlu lagi saya jelaskan, Anda pasti sudah paham dengan prosesnya. Yang membedakan hanya jumlah uangnya saja yang sampai bermiliar-miliar rupiah.


3.      Pemilihan wakil rakyat / anggota dewan daerah dan pusat.
Kurang lebihnya juga sama, saya tidak perlu jelaskan secara detail.

Masihkah ajaran Islam dan Islam itu sendiri ada di dalam hati dan pikiran mereka? Dan kita sebagai ma’mum yang memberikan amanah kepada pemimpin-pemimpin itu masihkah punya kekuatan dan kewengan untuk mengingatkan mereka ketika mereka mulai kilaf dan lupa?

Harapan saya pribadi hanya satu saja, semoga Allah SWT selalu memberikan yang terbaik untuk seluruh rakyat dan bangsa Indonesia tercinta ini. Sebuah bangsa dengan populasi muslim terbesar di dunia!

Pelajaran berharga dari kejadian imam yang lupa dengan bacaannya di atas semoga menjadi pengingat diri saya pribadi dan kepada Anda semua, bahwa Islam mengajarkan harmonisasi dan betapa indahnya kebersamaan antara imam dan ma’mum, antara pemimpin dan rakyat, antara pengemban amanah dan pemberi amanah.

########

Tulisan ini bukan bertujuan untuk memprovokasi, hanya sekedar ungkapan hati dari seorang ma’mum dan seorang rakyat kecil biasa. Dan saya sadar sesadar-sadarnya, saya hanya manusia biasa, tempat kilaf dan lupa. Mohon maaf jika ada beberapa orang maupun pihak lain yang kurang berkenan dengan tulisan ini. Mari bersama-sama kita istighfar karena kelemahan, kekurangan dan keterbatasan kita sebagai seorang makhluk Allah SWT bernama MANUSIA.

Astaghfirrullah al adziim.... ( 9.000.000.000.000X)

Sabtu, 07 Juli 2012


Seorang pemuda dan dokarnya


Dalam perjalananku hari ini menyusuri jejak-jejak sejarah kabupaten Madiun, di saat orang-orang disibukkan dengan berbagai perhelatan dan perayaan hari jadi kabupaten Madiun ke 444 tahun, seorang pemuda sedang tekun membersihkan dan mencuci dokarnya. Begitu asik mengelap bagian-bagian dokarnya yang kotor oleh debu jalanan desa Mruwak, kecamatan Dagangan, kabupaten Madiun.

“Sibuk, mas?” tanyaku.
“Iya, mas. Mumpung sempat, saya cuci dokarnya biar bersih“ jawabnya sambil mengelap bagian di atas roda.
“Ini dokar punya mas sendiri?”
“Punya orang tua, mas. Tapi kalau saya libur sekolah, biasanya saya yang ‘andong’ (narik)” masih tetap mengelap dokarnya.
“Oooh,,, jadi mas ini masih sekolah?” tanyaku lagi.
“Iya” jawabnya singkat.
“Sekolahnya di mana?”
“Saya baru aja naik kelas 2, di MA (Madrasah Aliyah) Tri Bakti Pagotan, mas.”
“Saya salut sama maaaas.... Siapa namanya?” tanyaku sambil mengulurkan tangan.
“Oh, saya Agus, mas” jawabnya sambil menyalamiku.
“Ya, saya salut sama mas Agus. Di jaman seperti sekarang masih mau narik dokar. Biasanya anak muda seumuran mas Agus pasti gengsi melakukan pekerjaan semacam ini” pujiku padanya.
“Yaaa,, mau gimana lagi, mas. Orang tua saya kurang mampu, ini saya lakukan karena saya ingin sekolah, syukur kalau bisa sampai kuliah” senyumnya mengembang seiring binar matanya penuh harapan.
“Biasanya narik dokar sampai kemana, mas?”
“Ya paling-paling seputaran desa ini, mas. Kalaupun jauh, paling cuma sampai desa Prambon.”
“Apa cita-cita mas Agus?”
“Pengennya bisa lanjut kuliah, mas. Tapi misal nggak ada biaya, ya nyari kerja aja. Dan kalaupun nggak dapat kerjaan, paling-paling ya neruskan narik dokar.”
“Insya Allah, kalau ada kemauan dan niat yang baik, pasti selalu akan ada jalan, mas Agus. Buktinya sekarang masih bisa sekolah meski disambi narik dokar?” kataku menyemangatinya.
“Iya, mas. Insya Allah saya akan terus berusaha” jawabnya dengan mantab.
“Oke, selamat bekerja lagi, mas Agus. Saya mau meneruskan perjalanan. Tetap semangat, ya?!” sambil mengulurkan tangan menjabat tangannya.
“Terima kasih, mas. Hati-hati di jalan, mas” katanya.

Aku menyalakan motor dan membunyikan klakson. Mas Agus melambaikan tangan sambil membungkukkan badannya. Dalam perjalananku, aku membatin betapa sosok pemuda seperti mas Agus tadi sangat jarang lagi bisa ditemukan. Seorang pemuda dengan dokarnya, sementara pemuda-pemuda lainnya sibuk dengan motornya, game online dan lain sebagainya. Jangankan duduk sebagai kusir dokar, naik dokar sebagai penumpang pun mungkin pemuda-pemuda seumuran mas Agus akan merasa gengsi.



 Jaman memang terus berubah, tapi akan selalu ada hal-hal yang tidak boleh berubah, semangat bekerja dan berjuang demi masa depan yang lebih baik, sikap rendah hati dan sopan santun, kejujuran dan masih banyak hal baik lainnya yang tidak boleh berubah. Karena jika sampai nilai-nilai kebaikan itu ikut berubah, maka hancurlah tatanan kehidupan yang ada.

Banyak hal yang bisa kita peroleh dari kisah pemuda bernama Agus Fiko dari dukuh Ngrakah, desa Mruwak ini. Kesederhanaannya, semangat juangnya, harapan-harapan untuk masa depannya, ketidakgengsiannya, rendah hatinya, kesabarannya dan ketekunannya menjalani hari-harinya menggapai cita-citanya.



Semoga masih banyak lagi sosok-sosok pemuda yang memiliki nilai-nilai kebaikan dalam diri mereka di Madiun ini.